Thursday, June 20, 2013

Teknologi Pemupukan Jeruk

Secara garis besar terdapat lima metode pendekatan untuk mengetahui kebutuhan unsur hara tanaman, yaitu :
  • Berdasarkan gejala visual kekahatan,
  • Berdasarkan hasil percobaan pemupukan,
  • Berdasarkan macam dan jumlah unsur hara yang terangkut keluar dari lahan,
  • Berdasarkan ketersediaan hara di dalam tanah (hasil analisis tanah),
  • Berdasarkan tingkat penyerapan unsur hara oleh tanaman (hasil analisis jaringan tanaman).
1. Berdasarkan Gejala Visual Kekahatan 
          Pemupukan yang dilakukan berdasarkan munculnya adanya gejala kekahatan tanaman bersifat kualitatif dan penentuan jumlahnya bersifat kira-kira, keculai sudah hasil percobaan sebelumnya. Metode ini dengan cepat dapat dilakukan segera setelah timbulnya gejala. Keseimbang-an hara merupakan faktor penting dalam menggambarkan gejala kahat, karena kekahatan dapat disebabkan oleh lebih dari satu unsur hara tertentu.

  • Kahat hara yang terlihat pada daun muda misalnya B, Cu, Ca, Zn, Mn, dan Fe.
  • Gejala pada daun tua atau muda, misalnya N dan S.
  • Gejala pada daun tua misalnya Mg, K, Mo.
Gejala kahat seringkali pada awalnya hanya pada beberapa pohon atau hanya pada cabang-cabang tertentu dapat menjadi masalah pada masa-masa selanjutnya.
 Berikut ini diuraikan secara singkat gejala-gejala kekahatan dan keracunan hara pada tanaman jeruk :
 Kahat N 
Gejala :
  • Ditunjukkan dalam banyak hal.
  • Pada tanaman yang mengalami kahat lanjut, N ditranslokasikan dari daun tua ke daun muda, umur daun lebih singkat dari 1 : 3 tahun menjadi 6 bulan.
  • Gejala lain daun menguning, hijau tua.
  • Jeruk membutuhkan N 2,5 - 3 % untuk pertumbuhan daun.
  • Kebutuhan pupuk N adalah 110 - 325 kg/ha
Kahat fosfor
Gejala  :
  • Kemunduran pertumbuhan dan hasil, daun mengecil, warna daun seperti perunggu dan gugur lebih cepat, kulit buah kasar, tebal, warna lebih tua, tidak berair, rasanya sangat asam .
  • Kahat P sering terjadi pada tanah-tua yang tua, tanah berpasir, dan gambut.
  • Pada tanah-tanah berat P harus dimasukkan ke zone perakaran.
Kahat Kalium 
  • Berfungsi sebagai buffer anion dan stabilitas pH.
  • Gejala kahat terjadi jika K daun <0,3 - 0,4 %.
  • Gejala awal daun kaku.
  • Pertumbuhan tanaman lambat dan mati cabang.
  • Daun mengecil berwarna kekuningan terus berwarna perunggu pada 1/2 bagian luar daun.
  • Gejala selanjutnya ujung daun berwarna coklat seperti terbakar (hangus).
  • Kulit buah kasar dan tebal, warnanya hijau tua dan rasanya sangat asam, dan ukurannya lebih kecil.
  • K bersifat antagonis terhadap Mg, Ca, NH3 - N.
  • Kebutuhan K 110-300 kg K2O/ha.
Kahat Kalsium 
  • Tanaman kerdil, perakaran tanaman berkurang, mati cabang, gejala kekuningan di antara tulang daun. 
Kahat Magnesium
  • Gejala kahat pada daun tua < 0,2%, warna daun seperti perunggu dan kuning.
Kelemahan yang terdapat pada metode gejala kahat ini adalah :
  • Gejala kahat hara ada yang mempunyai gejala yang mirip dengan gejala penyakit tertentu misalnya kahat Zn mirip gejala penyakit CVPD.
  • Jika terjadi kahat lebih dari unsur, gejala yang timbul biasanyasusah dikenal, kecuali dengan analisis jaringan tanaman.
  • Pemberian pupuk yang didasarkan pada gejala kahat relatif sudah terlambat.
  • Jumlah unsur hara yang diperlukan belum dapat ditentukan.
 2. Berdasarkan Hasil Percobaan Pemupukan 
         Takaran untuk hara mikro adalah 0,4 % (sebagai pupuk daun), 1% melalui tanah dalam bentuk TSP+ . Magnesium diberikan dalam bentuk dolomit sebanyak 2 - 5 t/ha, tetapi bila pH mendekati netral, takaran yang diberikan hanya 200 kg/ha. Sebagai pupuk daun Mg diberikan dalam bentuk MgSO4 dengan konsentrasi 1 %. Dengan memakai pupuk berimbang hasil yang dapat di peroleh dapat meningkat sebesar 21,8 - 58,1 %. Hara N,P dan K diberikan dalam bentuk Urea, TSP dan ZK secara larikan mengeliling batang ± 100 cm dari batang ata selebar tajuk tanaman sedalam 10 - 15 cm, atau dapat pula dengan membuat lubang pada tanah sedalam ± 30 cm dengan takarannya di sesuaikan dengan umur tanaman kesuburan tanah.
3. Metode Penentuan Pupuk Pusat Penelitian dan Pengambangan Hortikultura 
       Pusat penelitian dan pengem-bangan Hortikultura menggunakan metode penentuan dosis pupuk berdasarkan jumlah buah yang dipanen tahun sebelumnya, yaitu 3 % dari toral bobot buah tiap pohon dalam bentuk NPK (3:1:2)  diberikan dua kali per tahun bersama pupuk kandang. Tetapi secara umum Puslitbanghort juga masih menganjurkan penentuan kebutuhan pupuk pada jeruk berdasarkan umur tanaman dan status hara dalam tanah.
Rekomendasi Takaran pupuk untuk tanaman jeruk 
Pemberian jenis pupuk dan dosis (gram/tanaman) setelah penanaman adalah sebagai berikut:
Tabel: Rekomendasi Pemupukan Tanaman Jeruk



No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan sopan.Thank's

 
Powered by Blogger